Gowa, Pilarindonesia.com – Puluhan Laskar Pemburu Aliran Sesat (LPAS) Makassar, yang merupakan gabungan dari Laskar Muda LPAS dan Remaja Penghafal Alqur’an, mencari keberadaan seorang pengikut aliran sesat jaringan Ahmad Habibi, di Kabupaten Gowa, Ahad malam tadi (29/12/2024).

Mereka menyambangi Masjid Al Insan, Perumahan Bumi Zarindah, Desa Sunggumanai, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa. Setelah menunaikan shalat Magrib berjamaah, mereka pun berdialog dengan pengurus masjid dan RT setempat hingga masuk waktu shalat Isya.
Panglima Mabes LPAS Makassar, H. As Siddiq Sholeh, mengatakan kelompok Ahmad Habibi melakukan perekrutan hingga komunikasi yang rutin lewat dunia maya.
“Jadi, memang sangat sulit untuk bisa langsung dideteksi lokasi keberadaan kelompok ini, karena semua dilakukan lewat internet. Apalagi pimpinannya, tinggalnya bukan di Indonesia,” ujarnya.
Adapun warga di Kabupaten Gowa yang terindikasi menjadi pengikutnya, Ustadz Siddiq menyebutkan, berasal dari laporan yang masuk ke lembaganya.
“Sebenarnya kami hanya ingin tabayyun (mengkroscek) saja, dan kalau memang sudah terlanjur bergabung di kelompok aliran sesat ini, kita imbau agar segera keluar dan kembali ke jalan yang benar. Nanti kita akan berikan nasihat dan arahan agar supaya kembali ke pemahaman Islam yang berlandarkan Alqur’an dan hadist,” terangnya.
Berbaiat Lewat Ponsel
Ustadz Siddiq menyampaikan, pengikut dari kelompok aliran sesat Ahmad Habibi ini berbaiat lewat alat telekomunikasi, smartphone.
Dalam sebuah video yang diperoleh Mabes LPAS Makassar, tampak seorang pria, yang diketahui tinggal di Kabupaten Gowa, yang merupakan pengikut dari kelompok Ahmad Habibi, tengah berbaiat dengan mengucapkan kalimat tertentu.
Ustadz Siddiq menjelaskan, doktrin kesesatan mereka adalah meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammmad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, yang keberadaannya di luar negeri. Kemudian, meyakini Imam Mahdi telah muncul. Juga meyakini putri Rasulullah, Ruqayyah binti Muhammad, masih hidup.
“Mereka ini terus mencari pengikut dengan mengandalkan doktrin tentang perang di Palestina. Bahkan, mereka melakukan penggalangan donasi untuk rakyat Palestina. Namun, yang mencurigakan karena alat donasi tidak seperti lembaga pada umumnya. Mereka justru menggunakan alamat rekening pribadi menggalang dana,” jelasnya.
