
Sulbar, Pilarindonesia.com – Peringatan Asyura kelompok berpaham Syiah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, dibubarkan aparat bersama dengan gabungan aktivis ormas Islam, Jumat malam tadi.
“Mereka melakukan kegiatan tanpa izin dan sangat meresahkan, akhirnya perwakilan masyarakat Polewali datang meminta aparat untuk membubarkan,” kata salah seorang aktivis ormas yang turut serta dalam aksi pembubaran itu, Sabtu (29/7/2023).
Dia menyebut, pembubaran kegiatan itu berlangsung di sebuah hotel yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Dalam sebuah rekaman video yang beredar, upaya pembubaran diwarnai ketegangan dan berlangsung alot. Aktivis ormas Islam dan peserta kegiatan saling bentak.
Menurutnya, kegiatan itu diinisiasi oleh salah satu lembaga Syiah di Sulawesi Barat yang diikuti ratusan peserta. Mereka tidak hanya dari datang dari Sulbar, tetapi juga datang dari Kota Parepare dan Sidrap, Sulawesi Selatan.
“Sesudah (shalat) Magrib mereka sudah siap-siap. Setelah (shalat) Isya mereka mulai, dan tamunya berdatangan,” terangnya.
Pada hari Jumat kemarin, yang bertepatan dengan Hari Asyura atau 10 Muharram 1445 Hijriyah, penganut paham Syiah memperingatinya sebagai hari berduka atas kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
Berbeda halnya dengan ummat Islam pada umumnya di Indonesia, justru di hari Asyura itu dilaksanakan puasa sunnah Asyura, sebagaimana yang diperintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam melalui hadist yang shohih.
Kota Makassar dan Sekitarnya Nihil
Di Kota Makassar dan di Kabupaten Gowa sendiri, sejumlah ormas Islam juga melakukan penjagaan dan pemantauan di beberapa titik untuk mencegah adanya kegiatan peringatan Asyura ala pengikut Syiah.
“Kami bersama laskar sudah berkeliling memantau sejumlah tempat di Kota Makassar dan di Gowa, pada malam Asyura, hasilnya nihil,” kata Panglima Mabes Laskar Pemburu Aliran Sesat (LPAS), Siddiq Sholeh.
Adapun sebuah kediaman yang dicurigai sebagai lokasi penyelenggaraan acara, dia menyebut, namun acaranya cepat selesai, dan jamaahnya cepat juga membubarkan diri.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah mengeluarkan buku panduan berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah” sebagai sikap dan respon terhadap ajaran Syiah yang berkembang di Indonesia.