Jakarta, Pilarindonesia.com – Pakar persoalan Baitul Maqdis Palestina, dan juga pengamat politik hubungan internasional, Prof. Dr. Abdul Fattah Al-Uwaisi, menyakini Indonesia bakal menjad pemimpin dalam agenda pembebasan Baitul Maqdis dari cengkraman penjajah Zionis Israel.

“Saya optimis dan haqqul yaqin bahwa Indonesia akan menjadi pemimpin persiapan ilmu dalam pembebasan Baitul Maqdis,” ujarnya dalam kegiatan bertema Saladin Camp, yang diadakan di Kampung Magfhirah, Bogor, pada sejak Jumat-Senin (2-5/5-2025).
Abdul Fattah mengatakan, sejarah telah memberikan road map nubuwah dalam pembebasan Baitul Maqdis, salah satunya dengan apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dengan tiga langkah utama, yakni persiapan ilmu, persiapan politik dan persiapan militer.
Dia menyebutkan, lebih dari 100 tahun, umat Islam terlalaikan untuk memahami keilmuan tentang Baitul Maqdis. Padahal memahami ilmu tentang hal itu merupakan langkah utama untuk melakukan pembebasan.
“Penyakit yang diderita oleh umat ini sangat berat sehingga kita sulit dan telat dalam membebaskan Baitul Maqdis. Tiga penyakit tersebut adalah penjajahan akal, bencana keilmuan dan perbudakan pemikiran. Jika penyakit umat ini tak kunjung disembuhkan, maka sulit untuk melakukan pembebasan Baitul Maqdis,” terang Abdul Fattah.
Menurutnya, solusi dari masalah ini adalah dengan membaca dan keilmuan, sebagaimana ayat yang pertama Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
“Ilmu dan ma’rifah harus menjadi pemimpin dalam persiapan pembebasan Baitul Maqdis, karena dengan keilmuan akan membebaskan kaum muslimin dari perbudakan pemikiran dan penjajahan akal,” tutur Abdul Fattah.
Menurut Prof Abd al-Fattah bahwa berteriak saat orasi dan berdonasi saja tidak cukuk. Umat Islam perlu kuat dalam pemahaman tentang Baitul Maqdis. Sebab, begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah dalam menyiapkan para sahabatnya.
“Nabi Muhammaad membangun budaya Baitul Maqdis di Madinah dengan memperkenalkan istilah Baitul Maqdis sebagai Pondasi dasar dan benih pertama, membangun visi dan harapan atau optimisme besar pembebasan baitul maqdis (istilah ini menjadi langkah sentral dan akar kelimuwan dalam pembebasan Baitul Maqdis), menyebarkan optimisme pembebasan baitul maqdis baik dalam waktu dekat atau jangka panjang di masa akan dating,” tambahnya.
Selain itu, Abdullah Fattah juga menguraikan secara rinci teori Barakah Circle Theory atau keberkahan Baitul Maqdis sebagai hasil penelitiannya selama 30 tahun, dan juga teori keamanan yang didapatkan dari Al ‘Uhdah Al-‘Umariyah.
“Keberkahan yang didapaktkan oleh rakyat Indonesia adalah pusat berkahnya dari Baitul Maqdis. Seakan-akan berkah itu berupa gelombang yang memancar dari Masjid al-Aqsa dan membentuk lingkaran-lingkaran hingga menyebar secara luas tanpa batas,” ungkapnya.
Kegiatan ini digelar atas kolaborasi oleh Saladin Comunity, Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU), Al-Fahmu Institute, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dilaksanakan di dua tempat, di Bogor, Jawa Barat, 26 April-2 Mei 2025, dan Training Center UMJ, 3-5 Mei 2025.
Kegiatan itu diharapkan dapat membangun semangat dan kesadaran di kalangan generasi muda tentang pentingnya peran mereka dalam pembebasan Baitul Maqdis.

Sumber Berita : Muh. Akbar