
Sulteng, Pilarindonesia.com – Salah seorang da’i pelosok, Ustadz Syamsuddin Daeng Mapuna, ternyata pernah merasakan kehidupan dari balik jeruji besi dikarenakan sempat terjebak pada pergaulan. Namun karena waku itu usianya masih terbilang di bawah umur, maka tidak lama kemudian, ia pun dibebaskan.
Namun, sebelum menghirup udara segar di luar penjara, Syamsuddin kala itu tersentuh dengan dakwah mendiang Ustadz Ismail, seorang da’i Wahdah Islamiyah di Sulawesi Tengah, yang rutin melakukan pembinaan kepada para narapidana di Lapas.
Tak sampai di situ, Ustadz Ismail lalu melihat potensi di dalam diri Syamsuddin. Dia pun tergerak membimbing dan mengajarinya tentang Islam.
Masuk ke ruang dakwah, di bawah bimbingan Ustaz Ismail, Syamsuddin kemudian menjadi seorang da’i pelosok yang tangguh. Menyaksikan gurunya menyusuri kampung demi kampung, mendidik masyarakat dari nol, menghidupkan Islam di tempat yang tak terjamah, membuatnya terpikat. Ia pun bertekad, kelak akan mengangkat panji yang sama.
Awalnya, Syamsuddin hanya tukang angkut logistik dakwah. Dari 2014, ia mengiringi gurunya, tapi baru pada 2017 ia resmi menjadi da’i. Pelan tapi pasti, ia menyatu dengan jalan sunyi itu, jalan penuh keringat, luka, dan air mata.
Ia menempuh pendidikan dakwah. Sempat belajar di STIBA Makassar, lalu pindah ke Jawa, ikut program pondok tahfizh dan entrepreneur yang digagas pimpinan Ar-Rahman Quranic Learning Center, KH Bachtiar Nasir. Meski di pondok itu hanya berjalan dua tahun, Syamsuddin tak menyerah. Ia lanjut ke Bekasi, ke Pondok Nu Waar milik Ustaz Fadlan Garamatan. Disanalah semangatnya tentang dakwah pelosok semakin menyala-nyala.
Dan nyala itu menjelma menjadi cahaya. Nyala itu masih terus ada hingga hari ini. Tak lekang oleh waktu.
Dari tahun ke tahun, bersama tim dakwahnya, Ustadz Syamsuddin masuk ke rimba Sulawesi, mendaki gunung-gunung, menyeberangi puluhan sungai, berjalan kaki dua hari, menginap dua malam di hutan belantara. Semua demi menyapa suku-suku pedalaman, yang bahkan tak tahu huruf, tak kenal listrik, dan anak-anaknya telanjang tanpa sehelai kain pun.
Tapi justru dari ketidaktahuan itu tumbuh harapan. Ketidaktahuan itulah yang membawa saudara-saudara kit aitu masuk ke dalam jarring hidayah.
Sambil memberi hadiah berupa jaket, sarung, makanan, para da’i ini membangun cinta. Mereka rangkul tokoh adat, duduk bersama para sesepuh, dan menjalin silaturahmi yang hangat. Strategi sederhana namun ampuh: menguatkan hubungan, lalu menanamkan makna.
Ketika para da’i shalat, suku-suku itu bertanya: “Kenapa harus shalat?” Dari pertanyaan itu, tumbuh keingintahuan, lalu muncul keyakinan. Dari keyakinan itulah, membuat mereka semakin mantap memeluk Islam dalam hidupnya. Dan ustaz Syamsuddin menyaksikan sendiri, masya Allah, sebanyak 52 orang suku pedalaman memeluk Islam dalam satu kali perjalanan dakwah.
Sejak 2017 hingga hari ini, ratusan orang telah masuk Islam lewat tangan-tangan lembut para da’i pelosok, termasuk Ustaz Syamsuddin. Ia tidak sendiri, tapi perannya tak bisa diremehkan. Ia mengatakan, ia tak mampu, tak bisa, tak mungkin jika dakwah hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Butuh Kerjasama, butuh kerja-kerja jama’i.
Kadang jalanan terputus, ban motor pecah, oli habis dua kali dalam sekali jalan. Kadang sungai meluap dan arus menyeret anggota tim yang baru saja operasi. Tapi tak pernah sekalipun langkahnya mundur. Cedera? Pernah. Logistik habis? Sering. Menangis? Apa lagi. Tapi hatinya tak pernah kosong: selalu penuh dengan harapan.
Kini, ia adalah nama yang harum di pelosok. Bukan karena popularitas, tapi karena ketulusan. Bukan karena pangkat, tapi karena keberanian menyentuh hati mereka yang tersisih.
Ustaz Syamsuddin, sang mantan anak binaan penjara, kini adalah pelita yang menyala di lorong-lorong gelap pedalaman Sulawesi. Dari panggung kehidupan yang suram, ia menjelma menjadi pelita umat yang tak lelah membagikan cahaya. Ia, kader Wahdah Islamiyah, kader Islam, dai pelosok yang kiprahnya akan terus berlanjut hingga nyawa berpisah dari badan.

Sumber Berita : Zulkifli WIZ