Makassar, Pilarindonesia.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan menanggapi dugaan praktek kesyirikan yang dilakukan sekelompok warga sebelum terjadi musibah pohon tumbang yang menyebabkan sembilan orang meninggal dunia, di Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, pada Ahad (3/11/2024) kemarin.

Bahkan, Dr. KH. Nasrullah Sapa, Lc., MM., salah satu anggota Komisi Fatwa MUI Sulsel, langsung memberikan peringatan keras akan bahaya dosa syirik atau menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia menilai, jatuhnya korban dalam ritual kesyirikan menjadi pengingat tentang pentingnya memahami prinsip tauhid dalam Islam.
“Dalam ajaran Islam, meminta berkah, perlindungan, atau pertolongan pada selain Allah, termasuk melalui kuburan atau leluhur, adalah bentuk syirik,” kata Ustadz Nasrullah saat ditemui di Kota Makassar, Senin, 4 November 2024.
Dia kemudian mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surat Al-Fatihah ayat 5, yang artinya; hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
”Larangan ini pun didukung oleh hadist Nabi yang menegaskan; jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Hadist riwayat Imam Tirmidzi,” terang dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu.
Ustadz Nasrullah menyampaiakan perkataan ulama bahwasanya syirik adalah dosa besar yang merusak aqidah dan dapat menyebabkan kehancuran.
“Ritual seperti di Desa Mattabulu, yang melibatkan persembahan atau permohonan kepada entitas selain Allah, berisiko membahayakan diri serta merusak aqidah umat. Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran agar kita kembali kepada ajaran tauhid yang murni, dan meninggalkan praktek-praktek yang dapat menjerumuskan dalam kesyirikan,” jelas pria kelahiran Kabupaten Soppeng tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Soppeng, korban datang ke lokasi situs Pettabulue, Desa Mattabulu, pada Ahad kemarin, berwisata sambil membawa makanan sesajen dengan maksud membayar nazar setelah hajatan. Tiba-tiba hujan disertai angin kencang melanda. Bahkan, kesaksian dari kalangan korban, sempat terdengar suara petir, dan seketika menyambar pohon tempat mereka menggelar ritual. Akibatnya, beberapa tangkai pohon besar jatuh dan menimpa para korban. Kejadian ini menewaskan 9 orang wisatawan, dan 8 orang lainnya luka-luka.
Berita Terkait
Gelar Ritual Sesajen di Situs Pettabulue, 9 Warga Soppeng Meningga Tertimpa Pohon