Wukuf di Arafah, Begini Isi Khutbah Ustadz Sulaiman Gossalam

- Penulis Berita

Selasa, 27 Juni 2023 - 03:42

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makkah, Pilarindonesia.com – Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia saat ini tengah bersiap-siap melakukan wukuf di Arafah.

Menurut Ustadz Sulaiman Gossalam, yang saat ini sudah berada di lokasi Padang Arafah, Kota Suci Makkah, dirinya bersama dengan rombongan jamaah haji lainnya sudah bersiap-siap untuk melakukan wukuf.

”Insya Allah, Selasa jam 12.15 WAS (Waktu Arab Saudi), mulai Wukuf,” ujarnya melalui pesan kepada Pilarindonesia.com, Selasa, 27 Juni 2023.

Ketua Pembina Yayasan Yayasan Muhammad Cheng Hoo, melaporkan bahwa kondisinya beserta dengan jamaah haji asal Kota Makassar lainnya dalam kondisi sehat.

Ustadz Sulaiman Gossalam membawakan tausiyah singkat usai shalat Magrib di tenda jamaah haji di Padang Arafah. Istimewa

Sebelumnya, pada malam hari, Ustadz Sulaiman Gossalam, yang pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sulawesi Selatan, usai shalat Magrib, membawakan tausiyah di depan jamaah haji, di dalam tenda, di Padang Arafah.

Selain itu, Ustadz Sulaiman Gossalam juga didaulat membawakan khutbah saat wukuf di Padang Arafah.

Berikut isi khutbah dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tersebut:

Menggapai Haji Mabrur di Arafah

Assalamua’alaikum warahmatullah wabarakatuh

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ.
فَيَاضُيُوْفَ الرَّحْمَن أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ الله, وَاعْمَلُوا الصَّالِحَات وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَات وَاذْكُرُوا اللهَ فِي اَيَّامٍ مَعْلُوْمَت
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

Hadirin wal hadirat dhuyûfurrahmân para Jama’ah Haji yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala,

Pada hari yang penuh rahmat dan magfirah Allah SWT marilah kita bersama-sama memanjatkan syukur alhamdulillâh ke hadirat Allah SWT, karena kita dapat melaksanakan wukuf di Padang Arafah yang merupakan salah satu rukun haji yg terpenting. Saat berwukuf di Arafah, Allah mengabulkan segala permohonan yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan. Di sinilah maqam yg mustajabnya do’a diijâbah.

Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi junjungan kita, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, beserta keluarga, para sahabat serta para pengikutnya sampai hari kiamat. Dalam kesempatan yg mulia dan penuh keberkahan ini marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT, sebab hanya dengan berbekal keimanan dan ketakwaan yang berkualitas kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hadirin dhuyûfurrahmân yang dirahmati Allah ‘Azza wa jalla,

Kita datang ke sini untuk melaksanakan ibadah haji karena mendapatkan panggilan Allah melalui Nabi Ibrahim AS. Sewaktu Beliau selesai membangun Ka’bah, Beliau berdiri di samping Ka’bah, di tempat yang disebut maqâm Ibrahim. Allah SWT berfirman:

وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ
“Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS Al Hajj: 27).

Pakar tafsir dan sejarah, lbnu Katsir, menceritakan semula ketika diperintahkan oleh Allah untuk memanggil manusia berhaji, Nabi Ibrahim As. ragu. Perintah itu diterima setelah ia dan putranya Nabi Ismail selesai membangun kembali Ka’bah. Bagaimana mungkin panggilan suaranya terdengar ke seluruh penjuru dunia dan didengar seluruh manusia sampai akhir zaman.

Allah SWT berfirman:
“Tugasmu hanya memanggil, wahai Ibrahim. Selanjutnya, Akulah yang akan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia di berbagai tempat dan di setiap zaman.”

Nabi Ibrahim pun memanggil manusia dari tempat ia berpijak membangun Ka’bah (maqâm Ibrahim). Ada yang menyatakan dari atas sebuah bukit. Seketika semua bukit dan gunung merunduk sehingga tak ada sesuatu apa pun yang menghalangi suara Nabi Ibrahim menggema ke seluruh penjuru. Bahkan yang ada dalam rahim dan sulbi manusia ikut mendengar. Semua makhluk, termasuk manusia sampai hari kiamat yang ditakdirkan berhaji menjawab dengan ucapan, labbaykallaahumma labbayk.

Hadirin dhuyûfullah yang sama-sama berbahagia,

Semua jamaah haji yang datang memenuhi panggilan Allah. Oleh karena itu, mereka disebut dhuyûfurrahmân, atau dhuyûfullâh, para tamu Allah. Sebagaimana dalam riwayat Abu Hurairah yang disinyalir sebagai sabda Rasulullah Saw:

“Para jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah akan mengabulkan doa mereka, dan bila mereka memohon ampunan, Allah akan mengampuni mereka.”

Sebagai ungkapan kegembiraan memenuhi panggilan Allah, para jamaah haji disyariatkan untuk memperbanyak bacaan talbiah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Bacaan talbiah sesungguhnya adalah sebuah pengakuan atas panggilan Allah. Di situ juga terkandung ketulusan kita dalam memenuhi panggilan Allah dengan meneguhkan tauhid kita, seraya memuji-Nya atas segala anugerah nikmat kepada kita. Hanya dengan ketulusan dan keikhlasan, Allah SWT akan mengabulkan segala amal ibadah kita:

“Wama umiru illaa liya’budullaha mukhlishina lahuddin.”
“Innamâ yataqabbalullâhu minal muttaqin.”

Selama melaksanakan ibadah haji, kita dianjurkan, bahkan diperintahkan, untuk memperbanyak dzikirullah, mengingat Allah. Dzikir adalah media efektif untuk menjalin komunikasi dengan Allah. Dlm dzikir, kita menemukan ketenangan dan kedamaian (Ayat: Alaa bi dzikirillahi tathmainnul quluub). Oleh karena itu, manfaatkan keberadaan kita di tempat² dan waktu² mustajab utk berdzikir & berdoa kpd Allah, utk kebaikan diri, keluarga, bangsa, negara & segenap kaum Muslimin wal Muslimat di seluruh dunia.

Hadirin dhuyufurrahmân yang in syaa Allah mendapatkan Haji mabrur,

Setiap yang berhaji tentu mendambakan ibadah haji yang dilaksanakannya mabrur, diterima dengan baik oleh Allah SWT, sebab seperti dinyatakan dalam hadis sahih:

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga,” (HR Ahmad).

Nah, bagaimana cara mendapatkan haji yang mabrur? Para ulama menjelaskan ada berbagai cara, antara lain:

1. Niat melaksanakannya karena Allah. Sebagaimana firman Allah dlm QS Ali lmran: 97:

فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ
“Di sana terdapat tanda² yg jelas, (di antaranya) maqām Ibrāhim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia secara ikhlas terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang² yg mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tdk memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”

Kemudian dlm QS Al Baqarah: 196 Allah SWT berfirman:

وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ فَإِنۡ أُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡيِۖ وَلَا تَحۡلِقُواْ رُءُوسَكُمۡ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ٱلۡهَدۡيُ مَحِلَّهُۥۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦٓ أَذٗى مِّن رَّأۡسِهِۦ فَفِدۡيَةٞ مِّن صِيَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُكٖۚ فَإِذَآ أَمِنتُمۡ فَمَن تَمَتَّعَ بِٱلۡعُمۡرَةِ إِلَى ٱلۡحَجِّ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡيِۚ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖ فِي ٱلۡحَجِّ وَسَبۡعَةٍ إِذَا رَجَعۡتُمۡۗ تِلۡكَ عَشَرَةٞ كَامِلَةٞۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمۡ يَكُنۡ أَهۡلُهُۥ حَاضِرِي ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah *karena Allah*. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yg mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepala kamu sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yg sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib ber-fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka bagi siapa mengerjakan umrah sblm haji (melaksanakan ibadah haji Tamattu’), dia (wajib menyembelih) hadyu yg mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (saat) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari puasa yg sempurna). Demikian itu, bagi org yg keluarganya tdk ada (tinggal) di sekitar Masjidil haram. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya”.

Kedua ayat tersebut menegaskan, sebagai sebuah kewajiban, ibadah haji yang sempurna harus dilakukan hanya karena Allah SWT. Meski dalam berhaji diperkenankan melakukan aktivitas lain, seperti berdagang atau mencari manfaat dunia lainnya, tujuan utama berhaji adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya.

Rasulullah Saw mengingatkan kita tentang fenomena “haji akhir zaman”. Dalam salah satu riwayat, Beliau memprediksi bahwa di masa mendatang dalam melaksanakan ibadah haji manusia terbagi dalam empat kelompok:

“Akan datang suatu masa di mana orang-orang kaya dari kalangan umatku berhaji hanya untuk rekreasi/bersenang-senang, kalangan menengah berhaji untuk berdagang/ berbisnis, para qari, termasuk ulama, berhaji untuk riya dan popularitas, dan orang-orang miskin untuk meminta-minta (HR Al Khatib dan Al Dailami).

Meski dipandang lemah sanadnya oleh beberapa ulama, tetapi makna kandungan hadis ini cukup baik untuk menjadi renungan, sekaligus peringatan agar niat berhaji harus karena Allah SWT, mengharap rahmat dan keridhaan-Nya, bukan tujuan-tujuan duniawi semata.

2. Biaya haji bersumber dari yang halal. Sebagaimana sabda Rasulullah:

Apabila seseorang pergi berhaji dengan biaya yang bersumber dari yang baik, meletakkan kakinya dalam kendaraan, lalu membaca talbiah, seseorang akan memanggilnya dari arah langit, “Aku terima panggilanmu dan berbahagialah, bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur, serta tidak berdosa. Bila ia melakukannya dengan biaya yang bersumber dari yang tidak baik, meletakkan kakinya di kendaraan, lalu berkata, ‘labbayka’, ada suara panggilan dari arah langit:

‘La labbayka wala sada’ika (Tidak diterima seruanmu & tidak ada kebahagiaanmu), bekalmu haram, biaya yg kamu gunakan haram, dan hajimu tidak mabrur,” (HR. At Thabrani dari Abu Hurairah).

3. Melaksanakannya sesuai syariat Rasulullah

Melaksanakan ibadah haji adalah napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim As. Beliaulah yang pertama kali diperintahkan berhaji dengan tata cara (manasik) yang ditetapkan-Nya. Dalam perjalanannya, ibadah haji mengalami banyak penyimpangan. Sampai pada akhirnya Allah SWT mengutus Nabi Muhammad untuk meluruskan dan menyempurnakan kembali pelaksanaan ibadah haji:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah,” (QS Al Baqarah: 196).

Oleh karena itu, dalam berhaji kita harus mencontoh cara haji Rasulullah Saw dan para sahabat utamanya (Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin) serta amalan Salafus Shâlih yang mengikuti ajarannya.

Rasulullah Saw berpesan:
“Ambillah tata cara pelaksanaan ibadah haji (manasik) kalian dariku.”

Demikianlah beberapa hal yg perlu diperhatikan agar haji yg kita laksanakan menjadi mabrur. Tidak seorang pun tahu secara pasti, apakah mabrur atau tidak hajinya. Itu hak prerogatif Allah. Kita hanya bisa mengenali kemabruran haji melalui tanda²nya.
Dari Jabir ra. berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Haji mabrur, tdk ada balasan baginya melainkan hanya syurga. Mereka bertanya, wahai Nabiyallah apa itu haji yg mabrur? Beliau Saw bersabda: Memberi makan org miskin (kepedulian) dan menyebarkan salam (kedamaian).”_ (HR. Ahmad).

Selanjutnya disebutkan dlm HR. al-Hakim dan al-Baihaqi: Hadis ini sahih sanadnya namun tdk diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Muslim:
Rasulullah bersabda: “Memberikan makanan dan santun dalam berkata.”

Ayat: Menjauhi segala hal yang mengotori ibadah haji, seperti; rafats, fusuq, jidal, dan lainnya

Karena itu, bila ingin mendapat haji mabrur dengan balasan surga, maka wujudkan kepedulian sosial, dan tebarkan kedamaian di tengah masyarakat setelah kembali ke Tanah Air. Kita berharap sekembali ke Tanah Air, para jamaah haji dapat menjadi duta perdamaian dan kepedulian, yang akan melakukan perubahan dalam masyarakat ke arah yang lebih baik.

Hadirin dhuyûfullâh yang dikasihi Allah SWT,
Kita sekarang berada di Padang Arafah yang disebut-sebut sebagai tempat bertemunya kembali Nabi Adam ‘Alaihisalam dan Siti Hawa setelah berpisah sekian lama sejak diturunkan ke bumi. Konon, tempatnya di Jabal Rahmah.

Mereka berdua menyesal karena tergoda dengan tipu daya setan yang mengakibatkan mereka berdua harus keluar dari surga. Mereka berdua terus-menerus bertaubat kepada Allah dengan mengucapkan:

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi,” (QS AI A’raf: 23).

Allah SWT menjawab:
“Kalian berdua telah mengetahui tentang diri kalian di mana kalian berdua telah mengakui kecerobohan dan bermaksud minta ampunan.”

Oleh karena itu, mengikuti jejak Adam dan Hawa, marilah kita manfaatkan keberadaan di Padang Arafah ini dengan memperbanyak istigfar, memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan.

Hadirin dhuyûfurrahmân yang dimuliakan Allah,

Kita sekarang berada di Padang Arafah yg merupakan miniatur padang mahsyar (yg merupakan tempat berkumpul seluruh manusia pd hari dibangkitkan & dalam keadaan telanjang), tempat berkumpulnya jutaan orang yang datang dari berbagai pelosok negara. Berbeda bangsa, suku, bahasa, budaya, adat istiadat dan warna kulit. Namun semua sama, ditandai dengan pakaian ihram yang sama.

Ini merupakan tanda bahwa kita semua sama di hadapan Allah. Tidak ada pangkat atau jabatan, kiai atau santri, konglomerat atau kaum melarat. Semua sama di hadapan Allah dan yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Al Hujurat: 13:

“Wahai manusia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti”.

Ayat di atas juga menegaskan bahwa perbedaan adalah sunnatullah. Bukan untuk dipertentangkan, tetapi agar manusia saling mengenal, sehingga terbangun komunikasi dan harmoni di tengah keragaman yang ada.
Kemuliaan dan keutamaan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, atau warna kulit, atau suku bangsa tertentu, tetapi oleh ketakwaan dan sikap keberagamaan yang baik. Sebagai bangsa Indonesia yang hidup di tengah keragaman agama, budaya, suku dan bahasa sudah sepatutnya kita mensyukuri keragaman tersebut dengan senantiasa membangun komunikasi antara sesama anak bangsa agar tercipta kerukunan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Hadirin dhuyüfurrahman yang dimuliakan Allah,

Saat-saat kita berwukuf, memusatkan hati dan pikiran kiat dalam beribadah, mari kita mengenang kembali apa yang dialami Rasulullah beserta para sahabatnya sewaktu berada di Padang Arafah. Tepatnya di kaki Bukit (Jabal) Rahmah. Beliau berada di atas punggung unta yang bernama Quswa. Di situ Beliau menyampaikan khutbah wukufnya:

“Wahai umat manusia, dengarkanlah ucapanku, sebab saya tidak tahu, boleh jadi saya tidak akan bisa bertemu selamanya dengan kalian setelah tahun ini, di tempat ini. Sesungguhnya darah kalian haram (untuk ditumpahkan), dan harta kalian haram (untuk dirampas). Keduanya harus dipelihara seperti halnya hari, bulan dan tempat ini yang harus dipelihara telah aku tinggalkan kepada kalian Alquran. Kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada kitab suci tersebut.”

Sesudah selesai khutbahnya turunlah ayat:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu,” (QS Al Maidah: 5).

Setelah mendengar ayat ini, Abu Bakar ra. beserta para sahabat Iainnya menangis karena Rasulullah Saw mengatakan, “Kita semua manusia akan meninggal, mungkin aku tidak akan lama lagi bersama kalian.”
Kita sekarang semua berpakaian putih, dan nanti pun kalau meninggal hanya terbungkus dengan sehelai kain putih, tidak membawa harta kekayaan kecuali amal yang kita lakukan selama hidup di dunia yang fana ini. Sewaktu kita menghadap Allah akan ditanya tentang empat hal.

Dari Sayyidina Muadz bin Jabal berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan melangkah pada hari Kiamat sampai ia ditanyakan tentang empat hal; tentang umurnya digunakan untuk apa; masa mudanya dihabiskan untuk apa; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa dibelanjakan, dan tentang ilmunya apakah diamalkan atau tidak,” (HR. At Thabrani).

Hadirin dhuyüfurrahman yang diberkahi Allah SWT,

Kita semua diwajibkan untuk beribadah, namun kita semua menyadari belum bisa melaksanakannya dengan baik dan khusyuk. Apalagi dengan kewajiban seperti zakat dan infak juga tidak dilaksanakan sehingga fakir miskin dan yatim-piatu di sekeliling kita terabaikan.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa orangtua kami, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dan berilah kami petunjuk kepada jalan yang benar, yang Engkau ridhai sesuai dengan perintah-Mu.

Dari tanah dan momentum suci ini, kita berharap senantiasa diberkahi. Dari padang Arafah yang penuh berkah, kita bersimpuh memohon ridho Allah yang melimpah.

“Allahumma lakal hamdu kalladzi taqulu wa khairan mimma naqul. Allahumma laka sholati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati wa ilaika ma-aabi wa laka rabbu turaatsii. Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabil qabri wa waswasatish shodri wa syataatil amr. Allahumma inni a’udzubika min syarri maa tajiiu bihir riih”.
Ya Allah, segala puji bagi-Mu seperti Engkau memuji (diri-Mu) dan pujian terbaik yg kami ucapkan. Ya Allah bagi-Mu shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, dan kepada-Mu tempat kembaliku dan kepada-Mulah pemeliharaan apa yg aku tinggalkan. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur dan keragu-raguan dalam hati serta kesulitan² dalam segala urusan. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yg dihembuskan oleh angin”.

Ya Allah Ya Aziz, dzat yang maha perkasa anugerahkanlah kasih sayang Mu pada kami yang terus berharap cinta Mu. Peliharalah kami dan bumi ini dalam genggamanMu yang abadi. Sempurnakanlah keimanan dan ketakwaan kami untuk tetap beribadah kepadaMu.
Ampunilah dosa-dosa kami, orang tua kami seraya terimalah amal ibadah kami Ya Shomad, Ya Ahad, Ya Mujibad Da’awat, Ya Mujibas Sailin.
Karuniakanlah kepada kami haji yang mabrur, sa’i yg penuh syukur, dosa yg terampuni dan usaha yg makmur. Ya Allah yg Mengetahui apa yg terkandung dalam sanubari, tunjukkanlah cahaya iman yg suci dan keluarkan kami dari kegelapan hati. Ya Allah, kami mohon keselamatan dalam meniti kehidupan menuju surgaMu. Ya Allah, kabulkanlah doa kami. Aamiin 3x YRA…َ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Dewan Da’wah Pusat Kembali Terjunkan Da’i ke Sejumlah Wilayah Pelosok di Sulawesi Selatan
MPLS SMP IT Wahdah Islamiyah Makassar, dari Grogi jadi Happy
Ikatan Keluarga Darul Huffadh Cabang Makassar Gelar MHQ di Asrama Haji Sudiang
Antara Masjid Nabi dan Masjid Modern Kaum Muslimin Sekarang
Tahfiz Gratis Al-Hafisku Gowa Wisuda Perdana Penghafal Qur’an 30 Juz, Hadir Juga Juara Hafiz Indonesia
Dr Syamsuddin Arif Jelaskan Makna Akal dalam Diskusi Subuh di Masjid Sultan Alauddin Makassar
Hari Arafah Adalah Waktu Mustajab, Jangan Lupa Perbanyak Doa
Jangan Lupa Sahur Sebentar untuk Puasa Arafah Kamis Besok, Pahalanya Dahsyat

Berita Terkait

Kamis, 21 Agustus 2025 - 06:23

Akan Pentas: Pengenalan Program Pertunjukan Teater Anak Ri OLo Ri Boko

Minggu, 17 Agustus 2025 - 12:35

Diskusi di Hari Kemerdekaan, Pesantren Gratis Ingin Merdeka dari Open Donasi, Ini Salah Satu Solusinya

Kamis, 31 Juli 2025 - 22:31

Rektor Kampus Asal Malaysia ini Kunjungi Ponpes Darul Aman Gombara Makassar

Sabtu, 26 Juli 2025 - 11:19

WIZ Salurkan Donasi Beras kepada Santri Ponpes Qur’an Baitul Maqdis di Makassar

Jumat, 25 Juli 2025 - 23:37

Serunya MPLS di TK IT Wahdah Islamiyah, Mulai dari Saling Kenalan Hingga Shalat Berjamaah

Kamis, 24 Juli 2025 - 00:29

Mahasiswa FK Unhas Hadirkan Inovasi Peternakan Cerdas di Maros, Kolaborasi Teknologi dan Harapan dari Desa

Sabtu, 19 Juli 2025 - 09:25

Wartawan Berpengalaman Latih Guru-guru Sekolah Wahdah Islamiyah di Makassar Menulis Berita

Rabu, 16 Juli 2025 - 08:48

Yayasan Insan Hafidz Madani Kuttab Nurul Wahyain Bantah Keluarkan Siswa Hanya karena Persoalan Pembayaran

Berita Terbaru

Opini

Bone Adalah Pusat Peradaban Bangsa Bugis

Rabu, 20 Agu 2025 - 05:09