Makassar, Pilarindonesia.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) digelar secara serentak di Indonesia pada Rabu hari ini, 27 November 2024.

Persoalan memilih mungkin bagi sebagian orang mudah dan tidak bermasalah. Mereka bisa memilih siapa saja yang diinginkan. Namun, Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., mengingatkan bahwa bagi setiap Muslim, mereka meyakini setiap perkataan dan perbuatan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Maka tidak boleh kita sembarang memilih, dan ketika kita memilih, bukan untuk kepentingan pribadi maslahat duniawi kita, tapi untuk memilih yang terbaik di antara yang baik. Jika tidak, maka yang paling kecil mudharatnya di antara yang banyak mudharatnya, dan mungkin ini yang kebanyakan yang ada di negeri kita hari ini,” ujarnya dalam pengajian rutin di Masjid Anas bin Malik, Kampus STIBA Makassar, Selasa malam tadi.
Ustadz Yusran menjelaskan, apabila menggunakan standar idealisme agama Islam, sebenarnya tidak ada sosok calon pemimpin sekarang ini yang betul-betul memenuhi kriteria secara persis.
Akan tetapi, kata alumni Universitas Islam Madinah, Arab Saudi itu, tidak bisa dipungkiri ada di antara dari para calon pemimpin itu yang punya maslahat untuk ummat dan yang lebih kecil mudharatnya dibandingkan yang lain.
“Maka ini yang seharusnya kita pilih, dan tidak harus yang paling sholeh di antara semuanya secara persis, karena tidak harus yang jadi pemimpin yang paling sholeh di antaranya. Sholeh perlu tapi tidak harus yang paling sholeh. Abu Dzar radhiallahuanhu pernah meminta amanah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, dan siapa yang meragukan keimanan, ke-wara-an Abu Dzar. Dia adalah seorang sahabat yang wara, sangat hati-hati, zuhud dan sangat wara, tapi Nabi kita shallallahu ‘alahi wassalam mengatakan kamu laki-laki yang lemah. Bukan dari lemah secara fisik, tapi mungkin dianggap lemah dari segi kepemimpinan, tidak cakap dalam mengurus urusan banyak manusia, padahal kemimpinan membutuhkan seorang yang kuat, yang tangguh, yang amanah, namun juga tidak mudah dipengaruhi dari berbagai macam pihak yang mau melakukan hal-hal yang tidak benar,” terang Ustadz Yusran.
Dia melanjutkan, dari kisah tersebut, maka sosok calon pemimpin tidak harus yang paling sholeh, tapi harus sholeh, amanah dan yang memenuhi kriteria yang paling kecil mudharatnya bagi ummat Islam, dan paling memberikan mashalat kepada ummat, termasuk dalam hal ini bukan pada masalah kekerabatan sehingga memilih sosok tertentu. Apalagi jika tidak memiliki keberpihakan terhadap ummat Islam.
“Maka prinsip seorang Muslim tidak boleh kita ber-wala kepada musuh-musuh Islam walaupun dengan orang yang terdekat dengan kita. Dan Allah mengatakan semua persaksian kita itu akan tercatat dan kelak akan ditanya di hari kiamat. Maka, apa yang kita pilih, mungkin bagi kita cuma berapa menit, dan setelah itu akan dihitung, dan tidak ada lagi masalah. Kita juga mungkin suatu saat akan lupa Pemilu dan Pilkada yang lalu siapa saya pilih. Kita sudah lupakan, tapi telah tercatat di sisi Allah, dan ada pertanggungjawabannya di hari kiamat. Maka, jangan sembarangan, ya. Seorang Muslim dalam setiap kata dan perbuatannya dia betul-betul memperhitungkannya, karena ada yaumul hisab,” jelas Ustadz Yusran.
Jika telah berusaha sesuai kemampuan dengan semaksimal mungkin, dia mengingatkan agar menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena boleh jadi yang dipilih tidak terpilih, dan bisa jadi dia menjadi pemenang. Namun intinya serahkan sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla, karena manusia sebatas menduga mana yang betul-betul paling maslahat. Kemudian siapa yang terpilih menjadi pemimpin, Allah yang paling tahu, karena mungkin sosok pemimpin tidak seperti yang diinginkan, dan bisa jadi itulah ujian yang Allah akan berikan yang tidak sesuai dengan kriteria keislaman.
“Allah uji kita dengan itu (pemimpin yang tidak sesuai kriteria keislaman), dan itu kadang terjadi ketika kualitas kita memang cocok dengan mereka, karena kualitas pemimpin itu tergambarkan dengan kualitas apa yang ada pada rakyat. Dari rakyatlah para pemimpin muncul. Ketika rakyat rusak, maka pemimpin yang lahir kurang lebih seperti itu. Dan sebaliknya juga, pemimpin yang jahat, maka itu juga gambaran tentang bagaimana kualitas dari yang dipimpinnya. Saling punya keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Tapi, ala kulli hal, seandainya yang kita pilih adalah yang menang, maka tidak perlu kita berlebihan dan mengharapkan hal yang terlalu muluk-muluk, karena kita saksikan bahwa politisi di negeri kita. Bahkan di seluruh negeri yang ada, kebanyakan mereka hanya sekedar maslahat belaka, sehingga begitu mudah pindah, dan begitu mudah melupakan janji-janjinya. Maka, kadang kita kecewa, kadang kita sedih, tapi yang penting kita sudah memilih apa yang kita sangkakan yang terbaik. Adapun hasilnya dan bagaimana kemudian, maka kepada Allah kita berharap,” tutur Ustadz Yusran.
Nasihat Kepada Calon Pemimpin
Selain itu, Ustadz Yusran Anshar juga menasihat kepada para calon pemimpin agar tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kemenangan.
“Biar tujuan baik kalau caranya tidak benar, maka tidak baik. Dengannya, jangan kita juga mau disuap. Kita tidak mengenal serangan fajar atau serangan malam atau serangan sebelum fajar atau serangan jam 5, jam 6, jam 7. Atau setiap detik, jangan diterima. Kita harus punya izzah. Kita tidak berprinsip ambil saja tapi jangan pilih. Bagi kita ini bukan prinsip seorang Muslim, karena dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah akan melaknat penyuap dan penerima suap. Bagi kita memilih bukan karena disuap atau apa-apa. Kita ingin memilih karena ingin maslahat untuk Islam dan kaum Muslimin. Bukan persoalan duniawi,” katanya.
Kembali Ustadz Yusran ingatkan juga agar jangan melakukan politik yang kotor yang bertentangan dengan peraturan yang termaktub.
“Juga kita ingatkan kepada yang menang nantinya untuk amanah. Anda-anda telah terpilih. Ada yang menang, jangan terlalu bergembira . Ini amanah yang besar, dan di bawah anda adalah manusia-manusia yang punya pengharapan besar terhadap anda. Jangan kecewakan mereka. Jangan menggagalkan cita-cita dan harapan mereka, dan kita doakan Anda, semoga dimudahkan oleh Allah, tapi ingat jabatan bukan untuk dibangga-banggakan, bukan untuk riya dengannya, tapi dialah (jabatan) amanah yang besar, yang jika ditunaikan dengan sebaik-baiknya, maka dia akan menjadi salah satu jalan untuk lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena pemimpin yang adil, maka mereka akan didekatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di kanan Allah Arrahman di hari kiamat. Dan akan berada di mimbar cahaya di hari kiamat,” pungkasnya.
Kepada penyelenggara, KPU, Bawaslu dan Panwaslu serta jajaran pengawas Pilkada, Ustadz Yusran Ansar juga menasihatkan untuk amanah, tidak berpihak kepada siapa-siapa.
“Anda telah digaji, telah mendapatkan hak-hak anda dengan sepantasnya, maka tunaikan itu sebaik-baiknya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan kalian saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan yang untuk (berpotensi) memunculkan permusuhan. Kecurangan akan memunculkan permusuhan, maka hati-hati. Jangan kalian melakukan hal-hal yang semacam itu, karena pertanggungjawabannya berat di sisi Allah. Tidak jarang pertumpahan darah dalam persoalan seperti ini. Rakyat kecil yang susah, yang banyak menjadi korban, dan kadang penyelenggara juga sebagiannya dikorbankan. Atau yang menikmati hanya sebagian saja. Ini semua harus menjadi hal-hal yang perlu selalu kita ingatkan bahwa masalah seperti ini terus berulang di negeri kita yang kita cintai. Kita tidak pernah putus asa untuk kebaikan, maka kita perlu untuk selalu saling ingat mengingatkan,” jelasnya.