Makassar, Pilarindonesia.com – Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto, menghadiri acara pelantikan pengurus Takmir Masjid Sultan Alauddin, Jalan Profesor Abdurrahman Basalamah, Kota Makassar, pada Ahad (25/2/2024).

Dalam sambutannya, Danny Pomanto, sapaan Wali Kota Makassar, menyampaikan kesan-kesannya terhadap Masjid Sultan Alauddin yang disebutnya banyak melakukan peran pembinaan dan peningkatan kesejahteraan sosial di lingkungan masjid, seperti penyediaan program ATM Beras, pembinaan TK TPA, kegiatan Tahfidzul Alqur’an, dan kajian-kajian keislaman lainnya.
“Masjid Sultan Alauddin ini sangat unik, karena dihuni jamaah yang banyak terdiri doktor dan profesor dalam berbagai disiplin ilmu. Sehingga dengan hadirnya para ilmuan tersebut, terus dapat mengedukasi masyarakat dari kebodohan dan ketimpangan,” tuturnya.
Danny juga menyampaikan beberapa program Pemkot Makassar yang dapat disinergikan, seperti program santuni anak yatim, tahfidz lorong, jagai anak-ta, utamanya anak perempuan-ta.
Di sesi pelantikan, dilakukan pembacaan Surat Keputusan dari Dewan Da’wah Sulawesi Selatan Nomor 11/KEP/DD-SS/II/2024 oleh Dr. Askar Patahuddin, ME., mewakili Ketua Umum DD Sulsel.
Pelantikan itu dilakukan langsung oleh Sekretaris Umum (Sekum) Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat, Drs. H. Avid Sholihin, MM., yang melantik pengurus inti Takmir Masjid Sultan Alauddin Makassar, yang terdiri dari tujuh wakil ketua, dan tujuh ketua bidang kemakmuran masjid. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan.
Drs. H. Avid Sholihin, MM., menyampaikan tiga pesan mendiang Muhammad Natsir sebagai pendiri Dewan Da’wah, Menteri Penerangan Pertama RI, dan Pahlawan Indonesia.
Pesan pertama, kata dia, M. Natsir meminta agar meluruskan niat dalam mengurus masjid, karena masjid adalah amanah yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Kedua, sekarang jam berapa? Maksudnya seorang pengurus dan pejuang dakwah harus tahu kondisi ummat, sehingga dapat merumuskan program kerja yang tepat untuk ummat,” ujarnya.
Pesan ketiga, Avid melanjutkan, taat kepada pemimpin, maknanya seperti kegiatan shalat berjamaah.
“Namun kondisinya banyak yang berjamaah tapi terkadang mendahului imam. Atau bersamaan dengan gerak imam, atau terlalu lambat. Seharusnya makmum itu mengikuti imam sebagai gambaran dalam berorganisasi. Saya berharap dengan adanya pengurus baru di masjid ini, masalah-masalah yang lalu bisa kita selesaikan. Lebih dapat meningkatkan kemakmuran masjid, karena amanah ini adalah tanggung jawab kepada Allah,” terangnya.