Menunggu Rinai Salju di Aya Sofya Turki

- Penulis Berita

Minggu, 4 April 2021 - 05:26

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tiga hari salju turun di Kota Istanbul, Turki. Laksana kapas yang jatuh dari langit, salju menutupi permukaan kota. Pohon-pohon di sepanjang jalan kering. Cuaca juga tidak menentu. Kadang cerah, hujan, dan salju terjadi silih berganti.

Di kota ini, salju jarang sekali turun, bisa dihitung jari. Berbeda dengan Bursa, salah satu lokasi wisata salju di Turki. Tepatnya di puncak Gunung Uludag.

Siang ini, saya menyusuri kawasan Sultan Ahmet. Dari rumah, saya naik bus metro ke Visniciler. Stasiun yang bersebelahan dengan Istanbul University. Setelah jalan kaki sekitar 200 meter, saya tiba di stasiun Trem. Tepatnya di belakang kampus. Warga Istanbul memanfaatkan Trem sebagai transportasi publik. Kereta ini memiliki rel khusus membelah kota Istanbul. Dari Instanbul sisi Eropa menyeberang ke Asia.

Tiba di Stasiun Sultan Ahmed, saya menuju pintu masuk kawasan Hagia Sophia atau Aya Sofya. Di depan pos, saya merekam polisi yang melakukan pemeriksaan, salah satu petugas menegur. Nampaknya dia tidak suka direkam. Buru-buru saya turunkan dan minta maaf. ” I am sorry, Miss“.

Biasanya pengunjung memadati taman masjid. Mereka berkumpul di area air mancur menari. Lokasi yang jadi titik tengah Masjid Aya Sofya dan Masjid Biru. Berfoto dengan latar masjid atau makan jagung bakar yang dijual di sekitar taman. Ada pula yang keliling kawasan dengan bus pariwisata.

Aya Sofya yang baru difungsikan sebagai masjid ramai dikunjungi. Untuk masuk ke dalam, pengunjung harus antri dan membentuk barisan di depan gerbang. Petugas mengatur pengunjung agar bergiliran masuk ke area masjid.

Empat pilar menara menjulang ke langit, konon itu sebagai simbol Islam. Tiang-tiang penyangga terbuat dari pualam warna-warni menopang masjid. Dinding masjid penuh dengan aneka rupa ukiran. Karpet-karpet tebal menutupi lantai. Langit-langit masjid sangat indah dengan perpaduan seni lukis kaligrafi besar dan arsitektur yang memesona. Seniman Kazasker Mustafa Izzet adalah orang di balik keindahan itu.

Di bawah tulisan Allah dan Muhammad, pengunjung biasa berfoto. Tetapi ada satu yang berbeda. Lukisan Bunda Maria yang selama ini dibiarkan terbuka, kini tertutup kain putih sebab posisinya tepat berada di arah kiblat.

Sementara itu, lukisan mozaik tokoh Kristen lain di tembok masjid dibiarkan terbuka. Pemerintah Turki beralasan mozaik tersebut tidak mengganggu jamaah yang akan shalat.

Hagia Sophia pernah menjadi basilika, museum dan masjid. Pertama kali dibangun pada masa Kekaisaran Bizantium sebagai Basilika Gereja Ortodoks Yunani. Kira-kira 1500 tahun lalu. Bangunan itu, simbol keindahan arsitektur Bizantium di masa itu.

Setelah 86 tahun sebagai museum. Aya Sofya baru difungsikan sebagai masjid pada 24 Juli 2020 lalu. Shalat Jumat pertama kali digelar saat itu. Ribuan umat Muslim menjadi saksi sejarah perubahan itu. Rakyat Turki bergembira, Presiden Erdogan dianggap paling berjasa mengembalikan Aya Sofya.

Di sebelah barat Aya Sofya terdapat Masjid Biru. Masjid dengan enam menara yang merupakan ikon kota Istanbul. Peninggalan Sultan Ottoman yang masih berfungsi hingga saat ini. Interior masjid yang didominasi warna biru. Konon, 20.000 keping keramik berbagai motif, daun, bunga dan buah menghiasi masjid.

Saya menikmati berjalan di taman masjid itu. Bunga-bunga tulip belum menampakkan diri. Dingin membuat tanaman hibernasi. Pengunjung lain nampak mengabadikan dua masjid yang berhadapan itu.

Hari itu, sungguh saya menikmati perjalanan ke masjid. Takjub dengan interior, arsitektur bersejarah itu. Masih tegak, kokoh meski bangunannya sudah tua. Bangga dengan Muhammad Al Fatih yang sujud pertama kali di masjid itu saat berhasil menaklukkan Konstantinopel. Dia juga tidak mengganggu umat non-Muslim yang berlindung dalam masjid kala itu.

Saya kembali ke stasiun Sultan Ahmed. Naik Trem menuju Stasiun Grandbazaar, lalu jalan kaki ke stasiun Vesneciler, melewati Istanbul University, Kampus terbaik di dunia.

Gerbang mewah di gedung utama universitas Istanbul menyimpan sejarah bagi Istanbul. Pintu gerbang kampus cukup lebar. Bendera Turki ukuran besar berada di dua sisi gerbang. Ada tulisan bertinta emas di pintu gerbang tetapi saya tak faham artinya.

Sudah hampir sore, saya menyusuri jalan di samping kampus yang menghubungkan ke stasiun Vesniciler. Naik bus ke arah Fatih. Pesan WhatsApp yang masuk ke ponsel mengabarkan sop ayam sudah siap dihidangkan. Harus cepat ini, sayang kalau dingin.

Ismawan As, penulis asal Kota Makassar, yang saat ini berada di Turki.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Achmad Faiz Wakili Ponpes Modern Kurir Langit Barru Ikuti Pertandingan Panahan Tradisional SMP-SMA se-Sulsel di Makassar
Program Studi Pariwisata Universitas Hasanuddin Gelar Pelatihan Pemanduan Wisata di Taman Prasejarah Sumpang Bita
Otonomi Khusus, Negara Bagian, atau Jawa Barat Merdeka?
POROZ-Wahdah Islamiyah Pererat Strategi Kolaborasi
UKM Olahraga FIKK UNM Gelar Turnamen Nasional Tenis Meja di Mal Nipah
Realisasi RKAT IZI Telah Sesuai dengan Norma Kepatuhan Syariah
Imam Shamsi Ali Tanggapi Rencana Pertemuan Gereja Toraja di Asrama Haji Makassar
DPRD Bone: Pos Alokasi Anggaran Media Cukup Satu Pintu!

Berita Terkait

Kamis, 21 Agustus 2025 - 06:23

Akan Pentas: Pengenalan Program Pertunjukan Teater Anak Ri OLo Ri Boko

Minggu, 17 Agustus 2025 - 12:35

Diskusi di Hari Kemerdekaan, Pesantren Gratis Ingin Merdeka dari Open Donasi, Ini Salah Satu Solusinya

Kamis, 31 Juli 2025 - 22:31

Rektor Kampus Asal Malaysia ini Kunjungi Ponpes Darul Aman Gombara Makassar

Sabtu, 26 Juli 2025 - 11:19

WIZ Salurkan Donasi Beras kepada Santri Ponpes Qur’an Baitul Maqdis di Makassar

Jumat, 25 Juli 2025 - 23:37

Serunya MPLS di TK IT Wahdah Islamiyah, Mulai dari Saling Kenalan Hingga Shalat Berjamaah

Kamis, 24 Juli 2025 - 00:29

Mahasiswa FK Unhas Hadirkan Inovasi Peternakan Cerdas di Maros, Kolaborasi Teknologi dan Harapan dari Desa

Sabtu, 19 Juli 2025 - 09:25

Wartawan Berpengalaman Latih Guru-guru Sekolah Wahdah Islamiyah di Makassar Menulis Berita

Rabu, 16 Juli 2025 - 08:48

Yayasan Insan Hafidz Madani Kuttab Nurul Wahyain Bantah Keluarkan Siswa Hanya karena Persoalan Pembayaran

Berita Terbaru

Opini

Bone Adalah Pusat Peradaban Bangsa Bugis

Rabu, 20 Agu 2025 - 05:09