Tulisan Musriani, M.M (Dosen Manajemen UNIMUDA Sorong)

Pasar tradisional di Indonesia memiliki peran penting dalam ekonomi lokal dan menyediakan akses kebutuhan sehari-hari bagi banyak penduduk. Namun, dengan berkembangnya teknologi keuangan, muncul inovasi baru seperti Quick Response Indonesia Standar (QRIS) sebagai alat transaksi. Sosialisasi preferensi pedagang pasar tradisional terkait penggunaan QRIS menunjukkan perubahan signifikan dalam perilaku pembayaran. QRIS, yang memungkinkan pembayaran non-tunai melalui kode QR, telah menjadi fokus utama pemerintah dalam mendorong inklusi keuangan dan meningkatkan efisiensi pembayaran di Indonesia.
Dalam upaya memahami penerimaan dan preferensi pedagang pasar tradisional terhadap QRIS, pemerintah dan lembaga terkait telah meluncurkan kampanye sosialisasi yang luas. Melalui pelatihan, diskusi kelompok, dan pameran, pedagang diberikan pemahaman mendalam tentang manfaat QRIS, termasuk kemudahan penggunaan, keamanan transaksi, dan potensi peningkatan omset. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi pedagang tentang keunggulan dan keuntungan dari adopsi pembayaran non-tunai.
Hasil dari sosialisasi yang dilakukan oleh Dosen Program Studi Manajemen UNIMUDA Sorong, Musriani bersama tim menunjukkan bahwa beberapa pedagang pasar tradisional telah membuka diri terhadap adopsi QRIS. Mama- mama Papua di pasara mulai bergeser ke pembayaran non tunai dan mengakui keuntungan dari transaksi non-tunai, seperti pengurangan risiko pencurian dan kemudahan pelacakan transaksi. Selain itu, beberapa pedagang juga melaporkan peningkatan jumlah pelanggan karena kemampuan mereka untuk menerima pembayaran elektronik.
Namun, masih banyak pedagang pasar tradisional yang memiliki ketidakpercayaan terhadap pembayaran non-tunai atau memilih tetap menggunakan metode pembayaran tunai karena alasan kebiasaan atau kepraktisan. Dengan peningkatan sosialisasi, edukasi, dan penyediaan insentif yang tepat, pedagang dapat mulai melihat nilai dan manfaat dari QRIS sebagai alat transaksi. Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan dapat memberikan dukungan yang memadai untuk membantu pedagang dalam transisi ini.
Pendekatan holistik dan berkelanjutan dari pemerintah, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk memfasilitasi transisi yang lancar menuju penggunaan QRIS di pasar tradisional. Hal ini dapat mencakup penyediaan pelatihan, dukungan teknis, peningkatan infrastruktur, serta insentif yang memotivasi pedagang untuk beralih ke pembayaran non-tunai. Tantangan utama yang perlu diatasi termasuk infrastruktur yang memadai dan aksesibilitas terhadap jaringan internet, terutama di daerah pedesaan atau pelosok.
Secara keseluruhan, sosialisasi preferensi pedagang pasar tradisional terhadap QRIS menunjukkan pergeseran menuju pembayaran non-tunai yang lebih luas di Indonesia. Dengan dukungan yang tepat dari pemerintah, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya, QRIS memiliki potensi untuk menjadi alat transaksi utama di pasar tradisional, membawa manfaat bagi pedagang dan konsumen.