
Barru, Pilarindonesia.com – Hujan terus mengguyur Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Selasa sore kemarin, 24 Februari 2026, menjelang pemakaman jenazah Burhanuddin Marbas.
Sosok aktivis Islam yang juga dikenal sebagai pegiat media itu, wafat di rumah orangtuanya di Kampung Maddo, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, sekitar pukul 17.00 WITA, pada Senin, 23 Februari 2026.
Selama beberapa bulan terakhir, Burhanuddin Marbas berjuang melawan sakit tumor di pangkal lidahnya. Bolak-balik berobat ke rumah sakit. Terakhir, sebelum wafat, dia masih berusaha berobat alternatif dengan penanganan obat herbal.
Di rumah panggung yang dihuni ibu beserta dengan kakaknya, yang lokasinya hanya sepelemparan batu dari bibir Sungai Maddo itu, jenazah Burhanuddin dimandikan, dikafani oleh tim Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ), lalu dishalati.
Shalat jenazah dipimpin Sekretaris Jenderal DPP Wahdah Islamiyah, Ustadz Syaibani Mujiono. Tampak di jajaran makmum, ada Ketua DPD Wahdah Islamiyah Makassar, Ustadz Gishar Hamka; dosen Ma’had Al Birr Unismuh Makassar, Ustadz Rapung Samuddin; pakar dan penulis buku ekonomi syariah, Ustadz Supriadi Yosuf Boni, beserta sejumlah aktivis Islam lainnya, seperti Ustadz Akhyar dan Ustadz A. Asyraf, yang semuanya baru datang dari Makassar dan Gowa.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Syaibani juga sempat memberikah tausiyah, nasihat keagamaan kepada istri, anak-anak dan seluruh keluarga almarhum Burhanuddin Marbas.
Dalam kondisi hujan disertai jalanan yang cukup becek karena bersebelahan langsung dengan persawahan dan ternak sapi, jenazah Burhanuddin Marbas pun ditandu dan di bawa ke lokasi pemakaman.
Burhanuddin Komitmen Mondokkan Anak
Dalam sebuah postingan tulisan di akun Facebook Burhanuddin Marbas pada awal Januari 2026 lalu, tergambar komitmen almarhum untuk memasukkan semua anak-anaknya belajar di pondok pesantren.
Berikut postingannya:
Tadi siang, saya jemput anak kedua Muh Ahsanul Qaulan di Pondoknya. Ponpes Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar. Nampak di antara tiga bersaudara di Ponpes. Ini terakhir dapat musim liburan.
Liburannya terbilang singkat. 1 hingga 10 Januari. Kakaknya Nur Uswatun Hasanah Pondok Tahfidz IT di Bantul Yogya. Paling duluan. Bukan hanya liburan. Tugas magang IT dari pondoknya.
Sekarang sudah magang di PT Edutech Media Global pimpinan Coach muda Andi Asdar. Mulai belajar desain grafis, kelola SEO web hingga digital marketing.
Alhamdulillah, anaknya cepat dan mudah paham. Meski awal agak ragu. Pelajarannya di pondoknya masih dasar. Soalnya, 1 tahun pertama menghafal AlQuran. Tujuan pondoknya, mencetak Tahfidz yang kuasai IT.
Anak ketiga, Nur Rezkiana Mutiara mondok di Ponpes MHQ Essahabi di Samata Gowa. Sayang cepat pulang karena sakit. Beberapa hari nginap dj Pelamonia. Masih harus rutin minum obat. Membuat kami izinka supaya di rumahkan dulu.
Sekian tahun ini. Semenjak 2 anak sudah mondok. Apalagi sudah tiga sekarang. Kami jarang berkumpul semua anggota keluarga. Dari 6 anggota keluarga kecil. Tinggal sibungsu belum mondok. Muh Nur Habibie baru kelas 3 SD.
Saya dan istri bukan berlatar belakang sekolah agama. Apatah lagi, sekolah di pondok pesantren. Komitmen Keluarga. Anak dimaksimalkan sekolah di Ponpes. Bagi kami, di era sekarang. Ponpes menjadi sekolah dalam menciptakan generasi Emas.
Terasa mirip. Tagline Pemerintah “Indonesia Emas”. Tentu saja. Pendapat ini tak semua terima. Bahkan pasti ada menolak. Makhlum sekolah berbasis umum. Jauh lebih banyak berkualitas.
Dengan pembayaran besar. Kualitas dibeli dengan harga mahal. Itu wajar. Namun, bagi kami kelas ekonomi bawah. Begitu juga dengan semangat keagamaan. Tetap menganggap Ponpes sekolah ideal.
Lagian juga. Sistem pendidikan Ponpes telah melalui perjalanan panjang. Sudah teruji. Mencetak bukan mencetak ulama. Sejumlah pemimpin negeri ini. Juga hasil tempaan Ponpes.
Sebutlah; mantan Ketua MPR Amin Rais, dan Nurhidayat Nurwahid. Beserta sejumlah pejabat negara lainnya. Sulit disebut satu persatu hasil cetakan Ponpes.
Jelas menjadi bukti. Sistem pendidikan ponpes berkualitas. Apalgi sekarang ini. Sejumlah pondok juga. Sistem modern. Misalnya; pondok sudah mewajibkan bahasa Inggris bagi santri. Pembelajaran IT. Pelajaran wirausaha.
Semuanya bagian dari upaya modernisasi pondok. Menghadapi tantangan zaman. D tengah-tengah persaingan global. Siap bersaing, punya skill dibutuhkan zaman. Bukan lagi sekadar kepintaran dengan indikator nilai tinggi.
Sekolah di Ponpes. Bisa menjadi dai, ulama dan pencerah umat. Tapi bisa juga menjadi orang profesional. Pengusaha sukses. Banyak dai sukses jadi pengusaha. Seperti; Ustadz Adi Hidayat, dai kondang tapi juga pengusaha.
Jadi ceramah diberbagai daerah. Bahkan luar negeri pakai biaya sendiri. Malah beri hadiah umrah bagi jamaahnya. Ini sungguh luar biasa.
Marilah berikhtiar membina generasi di Ponpes. Betapa bangga orang tua. Jika ada anaknya Hafidz 30 juz AlQuran. Minimal 1 orang. Insya Allah, Allah beri jaminan surga. Semoga semua ikhtiar dan doa. Diijabah Allah, diperkenankan memiliki anak hafiz 30. Aamiin
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Burhanuddin Marbas, Aamiin




Sumber Berita : Irfan Abdul Gani, sahabat Burhanuddin Marbas rahimahullah






