Bogor, Pilarindonesia.com – Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Jawa Barat, kembali menggelar wisuda yang diikuti sebanyak 531 lulusan, di Hotel Braja Mustika, Bogor, pada Rabu (17/7/2024).

Para wisudawan tersebut berasal dari 3 program, yakni sarjana, magister dan doktor.
Ketua Senat UIKA Bogor, Prof. KH. Didin Hafidhuddin, M.S. membuka sidang senat luar biasa itu dengan tiga ketukan palu sidang.
Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H.E. Mujahidin, M.Si., mengatakan prestasi yang diraih kampus UIKA dalam setahun terakhir, seperti penerimaan mahasiswa baru yang terus meningkat, beasiswa dari berbagai instansi pemerintah dan swasta, pencapaian akreditasi unggul program studi tingkat sarjana, magister dan doktor, serta profesor baru UIKA yang sudah berjumlah enam orang.
Selain itu, dia melanjurkan, diperolehnya hibah penelitian dan Kemendikbudristek hingga meraih predikat sebagai rektor terbaik kedua se-Indonesia pada 2023, dan menjadi 10 kampus swasta terbaik se-Jawa Barat.
“Ni’mat yang diperoleh ini karena kedekatan kita kepada Allah yang memberikan petunjuk, sehingga mampu membawa kampus Islam pertama dan terbesar di Bogor ini meraih pencapaian besarnya,” kata Mujahidin.
Acara dilanjutkan dengan sambutan ketua Yayasan Pendidikan Ibn Khaldun Bogor, Kopertais Wilayah 2 dan kepala LLDIKTI IV Jawa Barat. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan SK wisudawan/wisudawati.
Dalam hajatan bersejarah itu, prosesi wisuda pertama dilakukan kepada para lulusan doktor program studi pendidikan agama Islam yang berjumlah 13 orang. Kemudian, wisudawan magister sebanyak 46 orang. Salah seorang wisudawan dalam program doktor dengan predikat magna cumlaude, diraih oleh Dr. Askar Patahuddin dengan IPK 3,97, yang merupakan dosen Akademi Da’i Indonesia (ADI) Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Sulawesi Selatan, di Kota Makassar.
Disertasinya berjudul “Konsep Pendidikan Tinggi Islam Moh. Natsir dan Implementasi di Indonesia Dalam Konteks Keumatan”. Askar Patatuddin merumuskan pohon pendidikan tinggi Moh. Natsir dengan enam tahapan, masing-masing dasar pendidikan adalah tauhid, penguasaan bahasa asing, integrasi ilmu dan Islam, desekularisme, multidisipliner ilmu, serta menjadi muballigh dan profesional.
Askar Patahuddin menekankan pentingnya perguruan tinggi melahirkan da’i/guru, pejuang dan pemimpin sebagai pelanjut Moh. Natsir.
“Kata Moh. Natsir dalam capita selecta-nya; maju dan bangkitnya suatu bangsa ditentukan oleh kesediaan guru-guru yang siap berkorban untuk bangsanya. Natsir juga menekankan akan pentingnya muballigh-muballigh yang siap diutus ke daerah terpencil dan pedalaman mendakwahkan Islam dari bahaya sekularisme, kristenisasi dan nativisasi. Maka, alumni perguruan tinggi yang sesuai dengan worldview Qur’an adalah alumni yang siap yang menjadi pendidik (guru, dai, mubaligh), mujahid dan pemimpin,” terangnya.
“Semoga momen wisuda ini menyadarkan pentingnya worldview Islam dalam menyelesaikan problematika pendidikan di Indonesia, sehingga mereka dapat mengisi posisi ditengah umat dan bangsa,” Askar menambahkan.
Atas kelulusannya itu, DR. Askar Patahuddin menyampaikan terima kasih atas dukungan setiap umat yang mendukung program pendidikan kaderisasi ulama, dan seluruh program pencetakan dai dan muballigh di Indonesia.
“Terkhusus kepada Laznas Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang telah membiayai program PKU Doktor ini, wabil khusus Ustadz Dr. (C). H. Ade Salamun sebagai ketua tim Pendanaan PKU bersama Kang Agung (CEO SalamuNetwork) dan juga kepada Dr. Budi Handrianto, M.Pd. selaku ketua program PKU DDII. Jazakumullahu khairal jaza‘ (semoga Allah membalas yang terbaik, Amiin yaa Rabbal Alamin),” tutur Askar.
Laporan: Muhammad Gaffar (Pemuda Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Sulsel)