KPU Menangis

- Penulis Berita

Kamis, 4 Juli 2024 - 12:36

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

M. Rizal Fadillah

M. Rizal Fadillah

Berita terhangat dan mendapat pemberitaan yang luas hari-hari ini adalah tentang pemberhentian Ketua KPU, Hasyim Asy’ari, oleh DKPP atas kasus pelanggaran etik, khususnya perbuatan asusila yang diadukan seorang perempuan berinisial CAT, yang merupakan anggota PPLN Den Haag, Belanda. Wanita ini merasa diperlakukan tidak senonoh yang dapat dikualifikasikan sebagai kekerasan seksual.

Inilah hukuman kelima yang diterima Hasyim setelah empat kali DKPP menjatuhkan sanksi “peringatan keras” pelanggaran etik kepada komisioner KPU itu.

Rupanya status “manusia kebal” Hasyim Asy’ari akhirnya tembus juga. Ia divonis pecat dari jabatan ketua dan anggota KPU. Meski formal pemberhentian masih menunggu Keputusan Presiden, akan tetapi Presiden harus menjalankan amar Putusan DKPP No 90-PKE-DKPP/V/2024 tanggal 3 Juli 2024 tersebut.

Sesungguhnya pada Putusan DKPP sebelumnya, yang memberi sanksi “peringatan keras terakhir” kepada Hasyim Asy’ari, publik sudah berharap bahwa ia sudah dipecat. Moral kepemimpinan Hasyim sudah ambruk. Berdampak pada hal penting dan strategis, yaitu penerimaan pendaftaran Gibran sebagai Cawapres PKPU Nomor 19 Tahun 2023 mengenai persyaratan batas usia 40 tahun yang belum diubah dengan PKPU baru.

Putusan DKPP Nomor 90 Tahun 2024 yang memecat Ketua KPU patut dijadikan momen untuk membongkar kembali berbagai kejahatan KPU, khususnya soal proses Pilpres yang dinilai cacat moral dan hukum.

KPU telah menjadi mainan istana untuk melaksanakan kepentingan politiknya. Karenanya, tidak cukup implikasi dari putusan itu hanya sekadar mengganti personal, akan tetapi lebih mendasar lagi.

Komisioner yang mudah disetir menghancurkan independensi KPU, perlu dipertimbangkan komposisi KPU yang melibatkan kembali unsur partai politik peserta Pemilu.

Saat peserta Pemilu terlibat dahulu, KPU dapat bekerja lebih obyektif dan terkontrol. Atau, jika pun Komisioner tetap seperti saat ini, maka Bawaslu mesti diperkokoh dengan representasi kekuatan pengawasan dari peserta Pemilu.

Putusan DKPP yang telah membuat KPU menangis harus menjadi pelajaran untuk mengambil manfaat dari semangat pengorbanan. Buang personal yang tidak cakap dan tidak berintegritas. Singkirkan budaya hedonis yang berputar hanya pada dunia materi. Saatnya kembali untuk bersikap mulia serta bertindak agamis dan ideologis.

Terngiang kembali suara ketua KPU yang berkhutbah Idul Adha tentang manusia berkarakter hewan yang harus disembelih sebagai nilai dari ibadah kurban. Ternyata, hari-hari ini terbukti bahwa Hasyim Asy’ari, ketua KPU itu yang telah menyembelih dirinya sendiri. Ia menjadi orang paling bodoh di muka bumi ini.

Ironinya, Hasyim saat itu menasihati dan mengajak Jokowi, jamaah spesial, dan “bosnya” untuk sama-sama menyembelih perilaku hewan yang melekat pada insan.

Mungkin Jokowi pun akan bunuh diri. Tidak lama lagi. Dua “dewa penolong” Jokowi telah “mati”, yaitu Anwar Usman dan Hasyim Asy’ari.

Bandung, 4 Juli 2024

Penulis: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bone Adalah Pusat Peradaban Bangsa Bugis
PT Super Tani Indonesia, Mitra Strategis Investasi Pertanian Nasional Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Karya Besar untuk Negeri, Pupuk Organik Plus Super Tani, Solusi Petani Cerdas
Pengaruh Campaign Net Zero Waste dalam Proses Pengelolaan Pendapatan Negara Versi BPDPKS
Skenario Netanyahu dalam Pembunuhan Ismail Haniyah
Heboh AJC di Indonesia
Opini: Tata Kelola dan Layanan Prima ala Bank Syariah
Opini: Urgensi Penyusunan Laporan Keuangan Rumah Ibadah Berstandar ISAK 35

Berita Terkait

Kamis, 21 Agustus 2025 - 06:23

Akan Pentas: Pengenalan Program Pertunjukan Teater Anak Ri OLo Ri Boko

Minggu, 17 Agustus 2025 - 12:35

Diskusi di Hari Kemerdekaan, Pesantren Gratis Ingin Merdeka dari Open Donasi, Ini Salah Satu Solusinya

Kamis, 31 Juli 2025 - 22:31

Rektor Kampus Asal Malaysia ini Kunjungi Ponpes Darul Aman Gombara Makassar

Sabtu, 26 Juli 2025 - 11:19

WIZ Salurkan Donasi Beras kepada Santri Ponpes Qur’an Baitul Maqdis di Makassar

Jumat, 25 Juli 2025 - 23:37

Serunya MPLS di TK IT Wahdah Islamiyah, Mulai dari Saling Kenalan Hingga Shalat Berjamaah

Kamis, 24 Juli 2025 - 00:29

Mahasiswa FK Unhas Hadirkan Inovasi Peternakan Cerdas di Maros, Kolaborasi Teknologi dan Harapan dari Desa

Sabtu, 19 Juli 2025 - 09:25

Wartawan Berpengalaman Latih Guru-guru Sekolah Wahdah Islamiyah di Makassar Menulis Berita

Rabu, 16 Juli 2025 - 08:48

Yayasan Insan Hafidz Madani Kuttab Nurul Wahyain Bantah Keluarkan Siswa Hanya karena Persoalan Pembayaran

Berita Terbaru

Opini

Bone Adalah Pusat Peradaban Bangsa Bugis

Rabu, 20 Agu 2025 - 05:09