Pasangan AMIN dan Strategi Devide et Empire

- Penulis Berita

Sabtu, 30 Desember 2023 - 05:52

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tamsil Linrung bersama dengan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar saat pelaksanaan jalan gembira di Kota Makassar, pada Ahad (24/9/2023).

Tamsil Linrung bersama dengan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar saat pelaksanaan jalan gembira di Kota Makassar, pada Ahad (24/9/2023).

Dalam beberapa kesempatan, saya sering sampaikan bahwa takdir Allah menyatukan Anies Rasyid Baswedan (ARB) dan Muhaimin Iskandar (AMIN) bukan sekadar memiliki nilai politis yang penting. Bukan sekadar menggagalkan upaya “penggagalan” pencalonan ARB pada Pemilihan Presiden (Pilpres) yang memang aromanya telah sedemikian lama kita cium. Upaya demi upaya itu telah kita cium. Bahkan jauh sebelum memasuki musim Pilpres kali ini.

Tapi lebih dari itu, takdir Allah menyandingkan AMIN memiliki nilai yang lebih besar, baik bagi bangsa dan negara, terlebih khusus lagi bagi umat Islam Indonesia yang menjadi segmen terbesar dari bangsa ini. Saya sering mengatakan bahwa takdir Ilahi ini menjadi jalan keberkahan dan kebaikan bagi umat Islam terbesar dunia di bumi Nusantara.

Kita semua sadar bahwa sejak lama umat Islam Indonesia mengalami blokade untuk bangkit dan maju. Berbagai upaya dilakukan untuk mengahalangi umat untuk ini memainkan peranan besarnya demi memajukan diri dan bangsanya. Salah satu blokade yang selama ini terjadi adalah dalam bentuk “devide at empire” atau “upaya pemecah belahan” antar kelompok umat agar selalu berada pada posisi yang termarjinalkan. Itulah yang terasa dengan sangat jelas dalam segala aspek kehidupan bernegara. Terkhusus lagi pada aspek politik dan ekonomi umat, yang kemudian berdampak pada aspek hukum, pendidikan, dan lainnya.

Selama ini upaya pemecah belahan itu paling terasa di antara segmen terbesar umat, kalangan Nhdhiyin, kelompok yang diposisikan seolah berhadapan dengan kelompok-kelompok keumatan yang lain. Tidak saja kelompok lain. Bahkan beberapa individu yang dianggap memiliki pengikut di masyarakat diposisikan seolah kontra dengan warga Nahdhiyin. Padahal individu-individu itu secara Fiqh (paham) keagamaan memiliki manhaj yang sama dengan kaum Nahdhiyin.

Bahkan di kalangan Partai yang berafiliasi keumatan, ambillah PKS sebagai contoh, sangat diidentikkan sebagai antitesis Nahdhiyin. Padahal para pembesar PKS begitu banyak yang justeru dari kalangan Nahdhiyin. Saat ini misalnya, dari Ketua Majelis Syura, Presiden, hingga ke tokoh-tokoh kunci banyak yang secara Fiqh keagamaan berafiliasi dengan Nahdhiyah. Akan tetapi upaya “devide et empire” itu sangat kental untuk memisahkan antara PKS dan PKB dan Nahdhiyin secara umum. Sehingga selama ini tumbuh persepsi jika PKS adalah Partai wahabi yang konotasinya kontras dengan manhaj Nahdhiyah.

Di sinilah kita sadari bahwa takdir Allah mempertemukan Amin (Anies dan Muhaimin) dalam proses pencalonan ini memiliki nilai besar dalam proses rekonsiliasi dan kesatuan umat. Bagaimanapun juga, berbeda dari Partai yang dilihat berafiliasi dengan Muhammadiyah, PKB sangat disadari dan diakui oleh warga Nahdhiyin sebagai Partai berafiliasi Nahdhiyah. PKB tidak bisa dipisahkan dari ruh kyai-kyai besar NU (dikenal Kyai Langitan) yang membersamai Gus Dur mendirikan Partai ketika itu.

Maka dengan segala kekurangannya yang ada, termasuk karena perbedaan bahkan perpecahan dengan keluarga Gus Dur (saat ini diwakili secara formal oleh Yeni Wahid), PKB masih dianggap sebagai Partai grass root dan Partai kyai-kyai Nahdhiyin. Bahkan walaupun beberapa petinggi PKB maju dalam pencalonan di daerah tertentu bukan dengan dukungan PKB, Khofifah di Jatim misalnya, tetap tidak bisa dipisahkan dari warna Nahdhiyah.

Di sisi lain, minimal lima tahun terakhir sejak terpilihnya menjadi Gubernur Jakarta, Anies dipersepsikan sebagai politisi yang dipromosikan oleh kelompok kanan, yang biasa dilabel dengan Islam garis keras bahkan Islam fundamentalis (condong ke radikalis). Apalagi pencalonan Anies di Jakarta dikomandoi oleh PKS, yang kemudian didukung oleh Gerindra setelah Sandiaga Uno yang awalnya dicalonkan oleh Gerindra sadar akan realita dan rela menjadi orang kedua. Jadilah Anies sebagai calon dari PKS dengan dukungan Gerindra. Jadi sesungguhnya Anies tidak dicalonkan oleh Partai Gerindra seperti hang diakui Prabowo di debat lalu.

Anies kemudian lebih kental dilabeli Islam garis keras dengan terlibat langsungnya gerakan 212 di bawah komando Imam Besar FPI ketika itu, Habib Rizik. Dengan terlibat langsungnya FPI mendukung pencalonan Anies dari non Partai, lengkaplah pelabelan Anies sebagai representasi Islam kanan atau Islam fundamentalis. Semua itu semakin runyam pula dengan PSI yang anti Islam yang kehadirannya seolah memang hanya untuk menghabisi Anies dan gerakan politik Islam.

Selama memimpin Jakarta para “Anies haters” membangun imej yang sangat terbuka jika Anies adalah representasi politik identitas, bahkan politik intoleran. Semua itu dibangun di awan-awan yang secara nyata paradoksikal dengan kenyataan di lapangan. Realitanya Anies oleh banyak kelompok non Islam di Jakarta dianggap Gubenur yang paling toleran dan paling berhasil menyelesaikan berbagai tantangan yang sebagian kelompok non Islam rasakan selama ini. Anieslah sebagai Gubenur Jakarta dalam sejarahnya yang paling banyak mengeluarkan IMB rumah ibadah non Islam.

Pada tataran lain, ada juga yang berusaha membelah umat kepada Islam radikal dan Islam moderat. Semua yang radikal adalah mereka yang non Nahdhiyin. Sementara yang moderat seolah hanya mereka yang berafiliasi Nahdhiyin. Secara umum seolah Nahdhiyin itu sebagai organisasi Islam terbesar di tanah air bersama Muhammadiyah merupakan lawan dari elemen-elemen Islam lainnya.

Maka dengan berpasangannya Anies dan Muhaimin, apalagi termasuk di dalamnya dukungan dua Partai yang selama ini dibelah (PKB-PKS) semakin menjadikan pihak-pihak yang punya i’tikad buruk kepada umat ini semakin sakit hati. Mereka tidak akan pernah ridho umat ini bersatu. Dan upaya yang mereka lakukan selama ini, bahkan sejak zaman orde lama dan orde baru, seolah mengalami kegagalan.

Itulah sebabnya kita sesungguhnya tidak terkejut ketika terasa semua kekuatan (lain) disatukan dengan cara halus (maupun kasar) untuk mengganjal pencapresan Anies. Dan dengan menyatunya Anies dan Muhaimin menjadi simbol bersatunya kekuatan-kekuatan umat yang selama ini dicerai beraikan dengan strategi “devide et empire”. Akibat dari pemecah belahan umat inilah yang kita rasakan pahit getirnya hampir dalam segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lalu Kapan umat ini akan tersadarkan?

London City, 26 Desember 2023.

Penulis: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bone Adalah Pusat Peradaban Bangsa Bugis
PT Super Tani Indonesia, Mitra Strategis Investasi Pertanian Nasional Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Karya Besar untuk Negeri, Pupuk Organik Plus Super Tani, Solusi Petani Cerdas
Pengaruh Campaign Net Zero Waste dalam Proses Pengelolaan Pendapatan Negara Versi BPDPKS
Skenario Netanyahu dalam Pembunuhan Ismail Haniyah
Heboh AJC di Indonesia
Opini: Tata Kelola dan Layanan Prima ala Bank Syariah
Opini: Urgensi Penyusunan Laporan Keuangan Rumah Ibadah Berstandar ISAK 35

Berita Terkait

Kamis, 21 Agustus 2025 - 06:23

Akan Pentas: Pengenalan Program Pertunjukan Teater Anak Ri OLo Ri Boko

Minggu, 17 Agustus 2025 - 12:35

Diskusi di Hari Kemerdekaan, Pesantren Gratis Ingin Merdeka dari Open Donasi, Ini Salah Satu Solusinya

Kamis, 31 Juli 2025 - 22:31

Rektor Kampus Asal Malaysia ini Kunjungi Ponpes Darul Aman Gombara Makassar

Sabtu, 26 Juli 2025 - 11:19

WIZ Salurkan Donasi Beras kepada Santri Ponpes Qur’an Baitul Maqdis di Makassar

Jumat, 25 Juli 2025 - 23:37

Serunya MPLS di TK IT Wahdah Islamiyah, Mulai dari Saling Kenalan Hingga Shalat Berjamaah

Kamis, 24 Juli 2025 - 00:29

Mahasiswa FK Unhas Hadirkan Inovasi Peternakan Cerdas di Maros, Kolaborasi Teknologi dan Harapan dari Desa

Sabtu, 19 Juli 2025 - 09:25

Wartawan Berpengalaman Latih Guru-guru Sekolah Wahdah Islamiyah di Makassar Menulis Berita

Rabu, 16 Juli 2025 - 08:48

Yayasan Insan Hafidz Madani Kuttab Nurul Wahyain Bantah Keluarkan Siswa Hanya karena Persoalan Pembayaran

Berita Terbaru

Opini

Bone Adalah Pusat Peradaban Bangsa Bugis

Rabu, 20 Agu 2025 - 05:09