Pilar Islam – Hari ini kita dipandaikan Allah Ta’ala untuk memahami ayat-ayatNya dari banyak peristiwa yang terjadi di Jalur Gaza. Pelajaran penting dari peristiwa demi peristiwa ini, kita ummat Islam diuji kualitas Iman dan Tauhid kita. Hasbunallah Wa Nikmal Wakiil, (cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung).

Hampir setiap hari kalimat ini kita dengar dari rakyat Gaza. Betapa fasihnya mereka mengucapkan kalimat itu di tengah kecamuk hati dan patah hati karena musibah yang mereka rasakan dari keganasan Zionis Israel, dan tidak ada sandaran lain kecuali hanya kepada Allah Ta’ala.
Kalimat Hasbunallah Wa Nikmal Wakiil, (cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung), bagi rakyat Gaza adalah ‘amunisi’ yang membuat mereka tetap kuat, membuat mereka tetap tegar, membuat mereka tetap tabah. Inilah hakekat Madrasatul Ibtila’, pendidikan langsung dari Allah Ta’ala kepada kita semua, terutama rakyat Gaza.
Peristiwa di Gaza ini mengajarkan kepada kita betapa kecil, lemah dan remehnya kita sebagai manusia. Betapa kecilnya dunia yang selama ini melalaikan kita. Harta, Istri, anak-anak yang kita cintai dan kita sayangi semuanya itu hakekatnya adalah titipan dari yang punya yaitu Allah Ta’ala dan pasti akan diminta kembali olehNya. Kita akan berpisah dengan mereka semua untuk sementara waktu dan kelak akan dipertemukan kembali di JannahNya Insya Allah.
Kita boleh bersedih, kita boleh menangis tatkala orang-orang yang kita cintai harus meninggalkan kita, namun kita tidak boleh mengucapkan kata-kata yang tidak diridhoi Rabb Kita. Sebagaimana dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis ketika anak beliau, Ibrahim, meninggal dunia. Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meratapi Ibrahim dengan ucapan-ucapan kalimat yang menunjukkan ekspresi kesedihan.
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Abu Saif Al-Qaiyn yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim (putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu pada kesempatan yang lain, kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal.
Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlinang air mata. Lalu berkatalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu kepada beliau, “Mengapa Anda menangis, wahai Rasulullah?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ
“Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang).”
Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda,
إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)
Menangis, meneteskan air mata adalah wajar karena menunjukkan kasih sayang kita kepada saudara atau kerabat yang meninggal. Akan tetapi, tangisan air mata tersebut tidak boleh diiringi dengan ratapan berupa ucapan-ucapan yang terlarang.
Dari tulisan singkat ini, semoga hati kita yang keras menjadi lembut, keimanan kita yang lemah semakin kuat dan tauhid kita semakin membaja. Allahu Akbar….
Dari Bumi Allah yang semoga diberkahiNya. Aamiin
11 Rabiuts Sani 1445 H / 26 Oktober 2023
Penulis: Abu Abdullah