
Makassar, Pilarindonesia.com – Ratusan santri beserta para ustadz pembina dan pendamping dari sejumlah lembaga penghafal Kitab Suci Alqur’an yang tergabung di Tahfiz Bersatu se-Sulawesi Selatan, tengah mengikuti pendidikan dan latihan (Diklat) siaga bencana, di kawasan Agrowisata Bontolojong, Kabupaten Jeneponto, sejak Kamis kemarin hingga Sabtu (26/8/2023).
Diklat siaga bencana itu diinisiasi dan diselenggarakan oleh Rumah Tahfiz Gratis Al Kautsar. Menurut Ustadz Rahmat Al Kautsar selaku foundernya, pelatihan kesiapsiagaan bencana itu termasuk kegiatan ekstrakurikuler bagi para santri di masing-masing pondok pesantrennya.

Dia menyampaikan tentang awal mula terbentuk kelompok Relawan Penghafal Alqur’an.
“Awalnya terbentuk di Jakarta, di Pulau Jawa, di mana relawan memang sangat dibutuhkan ketika terjadi bencana. Pernah suatu ketika, para santri dan para ustadz kami sudah pada istirahat dari melakukan kegiatan kebencanaan, tiba-tiba ada lagi panggilan dikarenakan bencana yang datang kala itu berentetan,” ujar Ustadz Rahmat, Jumat (25/8/2023).
Berita terkait:
Santri Tahfiz Bersatu se-Sulsel Ikuti Diklat Siaga Bencana di Jeneponto
Dengan rutinnya Relawan Penghafal Alqur’an Rumah Tahfiz Al Kautsar melakukan aksi sosial di lapangan, seperti aksi nyata yang pernah dilakukan di lokasi bencana alam yang terjadi di sejumlah tempat di Jawa Barat beberapa waktu lalu, ternyata cukup banyak lembaga tahfiz di Sulawesi Selatan yang juga tertarik dan berminat untuk melakukan kegiatan serupa, sehingga dilaksanakanlah Diksar siaga bencana ini.
Ustadz Rahmat mengatakan, target dari pendidikan dan latihan siaga bencana itu agar para santri penghafal Alqur’an mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, terutama bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
” Isi materi dari Diklat siaga bencana penghafal Alqur’an ini adalah agar mampu menjadikan para santri berguna bagi pesantren, bagi orang banyak, dan rakyat Indonesia pada umumnya,” tuturnya.
Selain itu, para peserta Diklat siaga bencana juga dilatih cara mengevakuasi korban di lokasi, menshalati jenazah, hingga pelatihan kewirausahaan seperti berbisnis menu kuliner frozen dan meracik kopi.